Rabu, 21 Januari 2009

Kisah Perang Al-Ahzab dan Perang Bani Quraizhah

Pada pembahasan ini terdiri dari 5 sub bahasan :
1.Gambaran umum perang al-ahzab ( dari aya ke 9 sampai ayat ke 11 )
2.Sikap yang hina dari kaum munafikin dan yahudi dalam perang al-ahzab ( dari ayat ke 12 sampai ayat ke 21 )
3.Sikap pengorbanan dan juang dari kaum muslimin ( dari ayat ke 22 sampai ayat ke 24 )
4.Kemenangan kaum mu’minin dan kekalahan kaum kafirin ( ayat ke 25 )
5.Gambaran umum perang Bani Quraidzhah ( dari ayat ke 26 sampai ayat ke 27 )

Pertama:
Gambaran umum perang al-ahzab ( dari aya ke 9 sampai ayat ke 11 )
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا . إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا . هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan. (yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat” (Al-Ahzab:9-11)

Inilah ayat-ayat yang “menjelaskan sejarah besar dalam perjalanan da’wah islam, dan perjalanan jamaah islam; gambaran tentang sikap dari ujian yang berat, yaitu perang ahzab, yang terjadi pada tahun ke 4 Hijriyah, ujian terhadap jamaah yang sedang melangkah ke depan, memiliki nilai-nilai dan persepsi-persepsinya yang utuh”. [1]

Sebab Turunnya Ayat
Diantara sebab turunnya ayat ini adalah : “Seperti yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Hudzaifah ra, berkata: sungguh kami telah melihat pada malam ahzab, dan kami bershaf-shaf dalam keadaan duduk, dan Abu Sufyan serta orang-orang yang bersamanya dari para sekutu berada di atas kami, sementara Bani Quraidzah berada di bawah kami, kami khawatir terhadap anak-anak dan keluarga kami, dan tidak ada suatu malam yang begitu gelap kecuali pada malam itu, dan tidak angin yang begitu kencang dan udara dingin kecuali pada saat itu, sementara orang-orang munafik banyak yang minta izin kepada Rasulullah saw, mereka berkata bahwa rumah-rumah kami dalam keadaan terbuka, padahal sebenarnya tidaklah terbuka, namun tidak ada yang meminta izin kepada nabi saw diantara mereka kecuali beliau mengizinkannya, sehingga mereka pergi, dan ketika itu nabi memanggil kami satu persatu hingga diriku, beliau berkata: bawalah kepada kami berita tentang keadaan kaum, maka akupun menghampirinya, dan saat itu angin topan menimpa kemah-kemah mereka, sehingga berantakan, dan demi Allah aku mendengar suatu batu menimpa kendaraan dan kuda-kuda mereka, angin kencang telah menimpa mereka sehingga mereka berkata: ayi kita pergi… ayo kita pergil.!! lalu akupun pulang dan mengabarkan berita yang aku dapatkan, sehingga turunlah ayat:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَجُنُوْدًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًا
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (Al-Ahzab:9)

Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya
Adapun hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya; bahwa ayat ini merupakan penggambaran “dari realisasi terhadap apa yang terjadisebelumnya; yaitu perintah bertaqwa kepada Allah, sehingga tidak ada yang ditakuti kepada selain Allah, yaitu ketika terjadi persekutuan orang-orang kafir dan kondisi yang begitu mencekam terhadap para sahabat, saat itu orang-orang musyrik telah berkumpul bersama dengan sekutu-sekutunya; baik yahudi dan orang-orang kafir yang ada disekitarnya, mereka turun ke Madinah sehingga nabi melakukan siasat dengan membuat parit, kondisi itu sangat mencekam dan menakutkan, namun Allah berkehendak lain sehigga umat Islam mampu mengalahkan mereka tanpa melakukan peperangan, sehingga dengan ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba tidak boleh takut kepada selain Allah, karena cukup bagi seorang muslim Allah sebagai pelindung dan memberikan keamanan dari segala tipu daya dan makar, karena Allah Maha Kuasa atas segala yang mungkin terjadi dan tidak mungkin terjadi, berkuasa memenangkan umat Islam atas musuhnya orang-orang kafir, padahal saat itu mereka dalam keadaan lemah, dan orang-orang kafir Quraisy dan yahudi memiliki kekuatan yang besar, persenjataan lengkap dan jumlah pasukan yang banyak”. [3]

Sebelum kita membahas ayat tentang perang Al-Ahzab dan perang bani Quraizhah, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu sekelumit sejarah tentang perang Al-Ahzab, agar bisa kita jadi ibrah (pelajaran) dan memahami kondisi sebenarnya tentang perang Al-Ahzab.

Bahwa perang Khandak atau yang dikenal dengan perang Al-Ahzab merupakan perang yang masyhur dalam sejarah Islam, yaitu sebagai salah satu perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, sebagaimana perang ini juga dikenal dengan perang tanpa baku hantam dan saling bunuh, sehingga tidak banyak jatuh korban, baik yang syahid dari kalangan umat Islam atau mati konyol dari kalangan orang-orang kafir yang telah lama menunggu saat perang, kecuali hanya sedikit yang menjadi korban, hal tersebut terjadi karena pertolongan Allah dan rahmat-Nya, sehingga Rasulullah saw dan para sahabatnya tidak perlu turun ke medan perang.

Dan perang ini dinamakan dengan perang ahzab karena ayat ini menjelaskan bahwa para sekutu agresor dengan ahzab (sekutu) yang berkumpul dari berbagai macam suku dan ras serta kelompok untuk memerangi Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman, dan dinamakan juga dengan perang khandak karena nabi saw dan umat Islam menetapkan untuk menggali tanah menjadikan parit untuk dijadikan sebagai penghalang dan penghambat laju musuh dan serbuan para musuh dalam perang perang tersebut.

Tulisan ini tidak bermaksud merinci kisah perang ahzab -seperti yang secara uslubnya dijelaskan pada buku-buku sirah- namun hanya sekedar mengisyaratkan di dalamnya beberapa sikap dan pengaruh-pengaruhnya seperti yang termaktub dalam hikmah Al-Quran; yaitu sebagai pelajaran, peringatan dan ancaman, sebagaimana yang kita fahami bersama dalam nash-nash Al-Quran dari berbagai kisah atau peristiwa tentang perang pada masa nabi dalam bentuk yang umum.
Sebagaimana pula “bahwa nash Al-Quran tidak menyebutkan sosok, atau orang tertentu, untuk menggambarkan contoh dari manusia dan tipenya. Tidak merinci peristiwa namun hanya bagian-bagiannya saja, untuk menggambarkan akan nilai-nilai yang tetap dan sunnah yang kekal. Inilah yang tidak akan habis dengan habisnya peristiwa, tidak akan terputus dengan hilangnya sosok, dan tidak akan hilang dengan hilangnya pelaku, karena itu kaidah ini akan terus ada dan menjadi contoh bagi setiap generasi dan zaman. Penuh dengan sikap dan peristiwa dengan takdir Allah yang Maha Menguasai atas segala peristiwa dan kejadian, dan menampakkan di dalamnya akan kekuasaan Allah yang Maha Kuasa dan tadbirnya yang Maha Lembut, berdiri pada setiap marhalah dalam setiap perang untuk mengarahkan dan mengikat dengan pondasinya yang agung”. [4]

“Perang yang akan kita pelajari ini (perang ahzab) terjadi pada bulan Syawwal tahun kelima hijriyah, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Ishak dan Urwah bin Az-Zubair, Qatadah, Baihaqi dan para ulama sejarah lainnya, karena peristiwa ini terjadi setelah berlalu 2 tahun dari perang uhud, sementara perang uhud terjadi pada tahun tiga hijriyah, dan antara perang uhud dengan perang ahzab terjadi beberapa peperangan kecil; seperti yaum Ar-raji’, dan rahtu adhal dan Al-Qarah, dan pada peristiwa tersebut banyak yang syahid para sahabat seperti Zaid bin Ad-datsnah dan Khabib dan sahabat yang lainnya di daerah ma hudzail, kemudian bi’ru ma’unah, kemudian ijla bani An-Nadhir, Ghazwah Dzatu riqo, badar al-Akhirah, kemudia Ghazwah daumatul jundul kemudian Khandak”.[5]

Adapun diantara sebab terjadinya perang ini adalah ketika nabi saw tinggal di Madinah dan melakukan perjanjian damai dengan beberapa kelompok Yahudi di Madinah; Bani Quraizhah dan Bani An-Nadhir untuk hidup berdampingan di kota Madinah, namun Bani Nadhir melanggar perjanjian, dan diantara pemimpin Yahudi Huyay bin Akhtab, dari kalangan Yahudi Khaibar yang memiliki ikatan perjanjian dengan mereka, karena mereka tinggal di desa yang disebut dengan Zuhrah.

Ketika Nabi saw pergi untuk suatu kebutuhan dan bersamanya para sahabat, kemudian Nabi duduk disamping rumah mereka, dan ketika itu dari orang yahudi berniat ingin membunuhnya, hingga dia naik ke atap rumah untuk menjatuhkan batu besar atasnya dan membunuhnya, kemudian datang wahyu dari Allah memberitahukan niat buruk mereka, maka nabipun bangkit dan pergi dengan segera ke kota Madinah, dan ketika diketahui bahwa mereka telah melanggar perjanjian dengan rasulullah saw, nabi mengutus Muhammad bin Salamah mengabarkan kepada mereka untuk keluar dari kota Madinah, namun salah seorang dari pemuka Yahudi (Huyay bin Akhtab) melarang mereka untuk pergi, maka nabi dan para sahabat keluar dan mengepung mereka hingga 6 hari lamanya, sehingga dalam hati mereka tertimpa rasa takut, dan merekapun meminta kepada nabi untuk melepas mereka dan membiarkan mereka pergi dari kota Madinah, diantara mereka ada yang pergi ke Khaibar dan ada yang pergi ke kota Adra’ di negeri Syam.

Dan setelah Rasulullah saw dan sahabatnya berhasil mengusir mereka, pemuka Yahudi yaitu Huyay bin Akhtab dan beberapa pemuka Yahudi lainnya pergi menuju Mekkah menjumpai suku Quraisy, mengompori mereka untuk memerangi Rasulullah saw, dan mereka berkata kepada suku Quraisy bahwa kami akan bersama kalian dalam satu barisan untuk menghancurkan mereka (nabi dan umat Islam), maka suku Quraisy menyutujuinya karena permusuhan mereka terhadap Rasulullah saw yang begitu kental, dan ditegaskan oleh ibnu Ishak tentang kisah ini : “Adapun yang mengompori perang untuk melawan Rasulullah saw pada bulan Syawal, adalah karena pengusiran yang dilakukan oleh Rasulullah saw terhadap Bani Nadhir dari tempat tinggal mereka”.[6]

Dan bukan hanya Huyay bin Akhtab yang mengajak Quraisy dan sekutunya untuk memerangi nabi dan sahabatnya di Madinah, namun juga di sertai oleh partnernya; yaitu Salam bin Abi Al-haqiq An-nadhari, Rasbi bin Abi Al-Haqiq An-Nadhari, Haudzah bin Qais Al-Waili, Abu Ammar Al-Waili, mereka adalah para pemuka yang sangat benci dan dengki terhadap Rasulullah saw saat beliau tinggal di kota Madinah dan mengusir salah satu kaum dari Yahudi, mereka juga ikut keluar menuju Quraisy di Mekkah; mengajak mereka untuk memerangi Nabi saw, mereka berkata; Kami akan bersama kalian hingga kita bisa menghancurkannya. Maka Quraisy pun berkata kepada mereka: wahai bangsa Yahudi; sesungguhnya kalian adalah ahlu kitab pertama, dan memahami apa yang terjadi dari perbedaan kami dengan Muhammad, apakah agama kami yang lebih baik atau agamanya?

Mereka berkata: “Agama kalian adalah yang lebih baik dari agamanya, karena kalian lebih berhak darinya”. Dia berkata: maka dari itulah turun ayat kepada mereka:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ أُوْتُوْا نَصِيْبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُوْنَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ وَيَقُوْلُوْنَ لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا هَؤُلاَءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا سَبِيْلاً
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman”. (An-Nisa:51)

Maka setelah mereka berkata demikian, suku Quraisy bergembira dan bersemangat untuk memerangi nabi, dan merekapun akhirnya bersatu dan menyiapkan segala perbekalan untuknya”. [7]
Bersambung insya Allah…al-ikhwan.net
______________________________________
[1]. Fi Dzilal Al-Qur’an, jil. 5, hal. 2832
[2]. Lihat: Asbab Nuzul, Al-wahidi, jil. 1, hal. 172, Tafsir Ibnu Katsir, jil. 3, hal. 473, Tafsir Al-Qurtubi, jil. 2, hal. 341
[3]. Tafsir Al-Kabir, jil. 25, hal. 171
[4]. Fi Zhilal Al-Qur’an, jil. 5, hal. 2835-2836
[5]. Lihat: Fathul Bayan fi Maqhasid Al-Qur’an, Jil. 11, hal. 52
[6]. Sirah Nawabiyah, Thobari, tahqiq Jamal Badran, hal. 202
[7]. Lihat: Sirah Nabawiyah, hal. 202

2 komentar:

  1. assalamu'alaikum akh !!
    kog namanya hampir mirip punyaku ya .
    punyaku elghoribi.blogspot.com

    nama akhi siapa ?
    ana khabibuddin al ghoribi .
    met kenal ja ya !

    BalasHapus
  2. bersambungnya kemana ya?

    BalasHapus

komentarilah jika ada keganjalan dalam artikel ini sehingga kita dapat mencapai kepuasan didalamnya